Oleh: Anastasia Jessica Adinda S.
Seni seringkali dipandang sebagai kegiatan manusia yang bersumber dari
rasa, tapi apakah ini berarti pengetahuan seni tidak dapat diuraikan seperti
kita menguraikan pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera, pengalaman,
atau akal? Seni seperti jenis pengetahuan yang lain juga dapat dicari
hakikatnya dari sudut pandang epistemologi.
Apa itu epistemologi?
Pernahkan bertanya : dari mana
manusia bisa mengetahui sesuatu? apakah yang kita ketahui benar-benar sama
dengan yang sesungguhnya hadir? Jika sama, mengapa seringkali kita mengalami
kekeliruan? Apakah itu benar dan keliru? Jika pernah menanyakan hal-hal di atas,
artinya Anda telah sampai pada ranah epistemologi. Epistemologi atau filsafat
pengetahuan mengkaji secara kritis mengenai hakikat pengetahuan, ciri-ciri
umumnya, metode memperoleh pengetahuan, pengandaian-pengandaian dasar yang
memungkinkan terjadinya pengetahuan, dan kebenaran.
Subjektivitas dan Objektivitas
dalam seni
Apakah sesuatu dikatakan seni
atau bukan seni itu tergantung dari subjek yang melihatnya? Atau karena suatu
benda memancarkan nilai seni sehingga manusia menyebut itu seni? Dalam
epistemologi, dikenal dua golongan besar pemikiran mengenai asal pengetahuan,
pertama empirisme dan kedua rasionalisme. Empirisme menyatakan pengetahuan
berasal dari dunia di luar subjek atau dari pengalaman. Jikalau pemahaman
subjek memiliki peran dalam memperoleh pengetahuan, hal itu bukan peran utama. Objek
memiliki peran utama sebagai sumber pengetahuan. Sedang pada rasionalisme,
pengetahuan berasal dari rasio, akal manusia. Subjek memiliki peranan penting
dalam proses pembentukan pengetahuan. Namun pertanyaannya, mungkinkah subjek
yang berdiri tanpa objek dapat memperoleh pengetahuan? dan juga sebaliknya,
mungkinkan objek dapat dimengerti tanpa peran subjek sama sekali?
Permasalahan subjektivitas dan
objektivitas dalam seni membawa persoalan berikutnya: apakah seni sungguh
tergantung dari setiap orang yang mengamatinya? Jika tidak ada objektivitas
dalam seni, masihkan pendidikan seni yang mengajarkan aturan-aturan umum dalam
seni relevan? (Hardono Hadi, 2011).
Metode memperoleh Pengetahuan
dalam Seni
Dalam epistemologi, dikenal ada
beberapa metode dalam memperoleh pengetahuan misalnya metode yang berangkat
dari suatu paham tertentu tentang kenyataan. Plato, sebagai contohnya. Plato
meyakini kenyataan yang sesungguhnya berada di dunia ide. Bertolak dari
keyakinan ini, epistemologi Plato memahami bahwa pengetahuan diperoleh dari
kegiatan jiwa mengingat (anamnesis) kenyataan sejati yang pernah dilihat
dalam dunia ide. Contoh metode lain dalam memperoleh pengetahuan ialah
berangkat dari keraguan untuk sampai pada kebenaran yang tidak diragukan lagi.
Misalnya, metode Descartes, skeptisme metodis yang dibedakan dari skeptisisme
mutlak. Descartes memulai dari keraguan akan segala kenyataan untuk sampai pada
kesimpulan yang tidak dapat diragukan lagi yaitu bahwa dirinya sedang berpikir.
Dalam seni, juga terdapat perbedaan dalam metode memperoleh pengetahuan. Aliran
melukis Neo-klasikisme misalnya, meyakini bahwa seni harus bersumber dari riset
yang mendalam terhadap sejarah, baik itu diperoleh dari sastra klasik atau
artefak masa lampau yang masih tersisa. Sedang, aliran melukis romantikisme
menolak hal ini, seni bukan berasal dari peranan rasio yang logis, atau juga
bukan dari ketepatan dengan sejarah, tetapi berasal dari emosi. Rasio menurut
aliran romantikisme tidak dapat menjangkau hal-hal yang dapat dicapai oleh
emosi.
Aliran impresionisme juga
memperlihatkan perbedaan metode dalam memperoleh pengetahuan dibanding aliran
lain seperti realisme atau naturalisme. Ketiga aliran ini yakin bahwa kenyataan
di luar subjek merupakan sumber pengetahuan. Ketiga aliran ini juga memiliki
keinginan yang sama untuk menggambarkan kenyataan sebagaimana adanya, tanpa
ilusi. Namun demikian, ketiganya berbeda dalam metode menangkap kenyataan. Dalam
Naturalisme, pelukis ingin menggambarkan objek setepat mungkin, peniruan dalam
naturalisme ialah peniruan bentuk. Pelukis naturalis menyakini bahwa
pengetahuan ialah apa yang dia lihat secara kasat mata. Sedang, realisme tidak
hanya menggambarkan bentuk objek setepat mungkin tetapi juga isi suasananya. Pengetahuan
bagi pelukis realis ialah apa yang ia lihat dan ia pikirkan tentang suatu
objek. Tentu pikiran tersebut bukan hanya dari angan-angan tetapi berdasar
pencerapannya terhadap objek. Impresionisme, lebih radikal dari naturalisme, menganalisis
bentuk dari cahaya yang terefleksikan
dari benda ke dalam retina mata dan lebih mencari efek dari cahaya tersebut
daripada bentuk objek yang direfleksikannya. Contoh cara kerja impresionisme
ialah bila semak-semak dari jauh terlihat dalam cahaya tertentu sampai pada
mata hanya sebagai warna hijau yang kabur, pelukis impresionis akan melukis
semak berupa warna hijau yang kabur, walaupun si pelukis tahu bentuk semak itu
dengan baik melalui memorinya. Pengetahuan bagi pelukis impresionis ialah apa
yang terlihat pada matanya tanpa mengandalkan memori sebelumnya tentang objek
tersebut.

Lukisan
Impresionis Claude Monet
Impression Sunrise
(1872)
Seni dan Kebenaran
Dapatkah seni menuturkan
kebenaran yang dapat dipercaya? Seni seringkali dituduh tidak mengemukakan
kebenaran karena berkaitan dengan hal yang tidak sesungguhnya, bahkan
seringkali dianggap merusak tatanan kebenaran yang sudah mapan. Plato menuduh
seni sebagai perusak moral, karena mengarahkan audien pada emosi dan tidak
mengemukakan kebenaran yang sejati. Seni hanyalah tiruan dari kenyataan yang
merupakan tiruan dari dunia ide. Jadi seni menurut Plato ialah tiruan dan
tiruan. Seni sangat jauh dari kebenaran yang sejati. Di lain pihak, Paul Taylor dalam artikelnya
yang berjudul Art and Truth menyatakan seni dalam hubungannya dengan
kebenaran ialah sebagai kendaraan menuju dunia aktual. Karya seni dapat
merepresentasikan state of affair (keadaan yang secara faktual terjadi),
dan dapat menggambarkan objek dengan cara tertentu. Merepresentasikan state
of affair misalnya novel yang ditulis berdasar peristiwa dan setting tempat
yang sungguh terjadi, sedang menggambarkan objek dengan cara tertentu misalnya,
peristiwa-peristiwa dalam novel disusun alurnya berdasar beberapa peristiwa
yang sungguh terjadi, dengan setting waktu dan tempat yang bisa saja ditulis
berbeda.