Sabtu, 17 September 2011

Seni dan Upaya Membongkar Masyarakat Satu Dimensi*


Herbert Marcuse (1898-1979)—filsuf jerman, melukiskan dalam disertasinya yang berjudul Der deutsche Künstlerroman (The German Artist Novel) bahwa masyarakat modern ditandai dengan hilangnya ‘keutuhan’. Greg Soetomo dalam Krisis Seni Krisis Kesadaran menjelaskan yang dimaksud dengan hilangnya ‘keutuhan’ tersebut ialah keadaan ketika persamaan sosial hancur berjalan seiring dengan perkembangan dan pembedaan kelas-kelas, berbagai profesi, yang kemudian diikuti dengan terbentuknya kebudayaan yang kompleks. Dalam situasi yang demikian, para seniman terpisah dari konteksnya. Pemahaman akan kultural yang terpecah-pecah memaksanya untuk masuk pada ketidaksadaran akan adanya semangat sosial universal untuk membangun identitas. Marcuse memperjuangkan penyatuan kembali seni dengan kehidupan, melalui sebuah ide yang lebih mendalam mengenai keberadaan spiritual yang utuh melalui bentuk estetika baru.[1]

Perhatian Studi Marcuse yang Beralih

Marcuse mengalami pembalikan bidang pemikiran. Dari awal karyanya yang berupa disertasi dalam bidang estetika, tahun 1930 – 1970 an yang banyak berbicara mengenai teori kritis, hingga di senja hidupnya ia kembali pada dunia estetika. Sebenarnya minat dan keprihatinan Marcuse dalam fase-fase perkembangan permikirannya masih sama, namun pendekatan dan sarana yang digunakan dalam analisisnya berbeda.[2]

The Affirmative Character of Culture (1937) ditulis ketika Marcuse masih berkeyakinan bahwa upaya mendobrak masyarakat secara revolusioner merupakan akan diwujudkan oleh kaum proletar Dalam sebagai agen pembaru dalam sebuah masyarakat yang mengalami kebuntuan karena kultur borjuis. Namun pandangannya mengenai agen pembaru yang mendobrak kultur borjuis mengalami perkembangan.[3] Sejak awal tahun 1950-an marcuse berkeyakinan bahwa masyarakat kelas pekerja sebenarnya tidak mempunyai harapan untuk menjadi revolusioner. Dengan demikian, teori kebudayaannya sekarang menghadapi dilema. Bagi marcuse, kultur afirmatif perlu untuk disingkirkan, tetapi permasalah yang ia hadapi adalah bahwa kaum proletar yang diharapkan menjadi agen progresif yang mampu menyingkirkan kultur semacam itu justru kehilangan potensi revolusionernya. Dilema ini menjadi sentral dalam pemikiran teori kebudayaan marcuse tua. Teori kebudayaan marcuse berjuang untuk menemukan sarana-sarana guna membebaskan diri dari jebakan kultur afirmatif.[4]

One-Dimensional Man

Marcuse sebagaimana Adorno, berpendapat bahwa kebudayaan modern populer sepenuhnya bersifat konservatif dan afirmatif. Keduanya melihat bahwa kultur massa hanya akan membawa kita larut ke dalam kondisi-kondisi represif kehidupan sehari-hari dalam masyarakat kapitalis. One-Dimensional Man melihat jelas bahwa kebudayaan industri berusaha menggantikan hasrat kebahagiaan dengan kebutuhan-kebutuhan palsu yang sejalan dengan masyarakat konsumeristik. One-Dimensional Man dengan demikian bisa ditafsirkan sebagai terobosan Marcuse dalam rangka mendukung inti teori estetikanya guna menghadapi masyarakat kapitalis yang represif. Kebudayaan massa dianggapnya merupakan upaya untuk menyingkirkan aspek progresif dari seni klasik dengan mengubah kebudayaan menjadi sebuah industri.[5]

Tahun 1977 Marcuse melakukan penilaian ulang atas tulisannya mengenai proses reseptif, yaitu proses ketika orang menghayati dan merasakan keindahan seni. Di sini ia mencoba mengembangkan analisis mengenai efek katarsis yang lahir dari momen reseptif. Marcuse mengatakan bahwa seni memang tidak dapat mengubah dunia tetapi seni mampu menyumbangkan satu perubahan kesadaran terhadap manusia; dan pada gilirannya, manusia inilah yang mampu mengubah dunia.[6]

Analisis Marcuse yang baru mengenai pengalaman reseptif menimbulkan pemahaman yang baru juga mengenai watak afirmatif. Analisisnya mengenai pembaruan spiritual yang diperoleh lewat katarsis estetis sangat mirip dengan posisi yang diambil Lukacs ‘tua’. Marcuse memulai proposisinya dengan mengatakan bahwa tuntutan akan perubahan yang radikal harus berakar dalam subjek individu itu sendiri, dalam akal budi mereka, dalam hasrat-hasrat dan tujuan individu tadi.[7]

Bagi Marcuse ‘tua’, kapasitas yang mencerahkan dari seni terletak dalam kemampuannya untuk mengaktifkan rasa perasaan yang sedang dominan dalam diri seseorang untuk melakukan perubahan. Marcuse menganggap bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kebutuhan radikal ini dikelabui oleh keinginan palsu yang disebarkan oleh masyarakat kapitalis. Sedangkan karya seni yang autentik menyampaikan ekspresi dari hasrat untuk membangun pribadi yang kaya. Dengan demikian, karya seni memungkinkan kelahiran kembali subjek yang bersifat kritis dan pendobrak dalam diri si penghayat seni.[8]

Marcuse sebagaimana Lukács, menganalisis dasar pemikiran kebutuhan sehari-hari untuk kesadaran manusia. Dalam Eros and Civilization, Marcuse memutar haluannya pada psikoanalisis untuk menemukan basis kesadaran manusia yang tersimpan. Daya dobrak karya seni terhadap potensi kreatif manusia mampu membangunkan pemberontakan yang selama ini tertidur dalam diri sang penikmat seni. Hal terakhir ini terealisasi melalui sebuah pembongkaran karakter-karakter yang hancur yang hanya berorientasi pada kebutuhan-kebutuhan sekarang dan sesaat saja. Bagi Marcuse ‘tua’, masyarakat satu dimensi selalu berada di bawah ancaman prinsip kenikmatan. Prinsip terakhir ini, sementara direpresi dalam kehidupan sehari-hari, justru diaktifkan dalam diri orang yang menghayati seni.[9]

Berbeda dengan karya-karya sebelumnya, Marcuse dalam The Aesthetic Dimension tidak mencoba menemukan kekuatan praksis politik guna merealisasikan ‘apa yang seharusnya’ yang tersimpan dalam perspektif humanistik dari seni autentik. Dalam karyanya yang terakhir itu, Marcuse menegaskan bahwa kesadaran yang berubah dari penikmat seni itulah yang harus ditanggung ketika kita berbicara mengenai peranan imperatif dalam estetika.[10]

*sekedar mengingatkan, tulisan ini hanyalah kumpulan kutipan-kutipan. Jangan menggerutu, bila Anda menemukan titik, koma, dan huruf kapital yang sangat mirip dengan buku yang saya kutip.



[1] Soetomo, Greg. 2003. Krisis Seni Krisis Kesadaran. Yogyakarta: Kanisius. Hal 130

[2] Ibid. Hal 130-131

[3] Ibid. Hal 136

[4] Ibid. Hal 139

[5] Ibid. Hal 141

[6] Ibid. Hal 143-144

[7] Ibid. Hal 144

[8] Ibid. Hal 144

[9] Ibid. Hal 145

[10] Ibid. Hal 146