Sabtu, 10 Desember 2011

Membaca Poetics karya Aristoteles

Oleh: Anastasia Jessica Adinda S.

: tulisan ini lebih pantas disebut sebagai resume daripada analisis atau refleksi atas Poetics karya Aristoteles[1]

Seni merupakan imitasi

Aristoteles dalam Poetics, menyatakan bahwa karya seni diproduksi dengan dengan metode imitasi. Epic poetry, Comedy, Dythrambic, Flute Playing, Lyre Playing merupakan ragam dari imitasi. Tiga hal yang menjadi pembeda dari ragam tersebut ialah means, objects dan manner of imitations. Pertama, means. Beberapa jenis seni menggunakan means (sarana/ media) yang sama, seperti warna dan bentuk yang digunakan oleh beberapa jenis seni lukis dan teater. Jenis seni lain, memadukan beberapa means yang meliputi rhythm, melody,dan syair, misalnya dalam dithyrambic dan nomic poetry, tragedy and comedy. Pembeda kedua, ialah objects. Objek yang diimitasi berupa actions (tindakan), dengan agents (subjek yang diimitasi) menjadi orang baik atau buruk—keberagaman karakter juga merupakan pembeda utama. Dalam Tragedy, manusia merupakan character (tokoh) yang baik, sedang dalam Comedy, manusia merupakan tokoh yang buruk. [Dalam comedy, tokoh juga dapat memiliki sifat baik, tetapi jika mereka terlalu diutamakan, mereka tidak dapat membangkitkan simpati]. Perbedaan ketiga, ialah manner of imitations (cara setiap jenis objek diimitasi). Sama dalam means dan jenis objek, namun berbeda dalam cara mengimitasi, menghasilkan karya yang berbeda pula, contoh: cerita yang diungkapkan dalam bentuk narative, sedang yang lain dalam bentuk dramatic. (Aristotle: 2316-1317)

Asal usul puisi berasal dari dua sebab, masing-masing merupakan sifat alamiah manusia. Pertama, Imitasi. Imitasi merupakan sifat alamiah manusia yang nampak dari masa kanak-kanak. Imitasi juga merupakan salah satu sifat yang dimiliki binatang. Manusia merupakan makhluk paling imitatif di dunia, yang belajar pertama kali melalui imitasi. kedua, hasrat untuk mengalami suatu pengalaman (experience). (Sebagai ilustrasi), walaupun objek menyakitkan untuk dilihat, kita tertarik dan terus menerus ingin melihat bentuk representasi paling realistiknya dalam seni, bentuk tersebut misalnya binatang paling rendah dan mayat. Penjelasan mengenai pengalaman dapat ditemukan dalam fakta lainnya, yaitu belajar sebagai greatest of pleasure (kesenangan yang paling hebat) tidak hanya untuk filsuf tapi untuk umat manusia. (Aristotle: 2318)

Narative Poetry and Dramatic Poetry

Aristoteles membedakan poetry menjadi dua jenis yaitu narative dan dramatic. Narative poetry dikenal sebagai epic, dan dramatic poetry dibagi menjadi tragedy dan comedy. Persamaan Epic dan Tragedy ialah keduanya mengimitasikan subjek yang serius yang dituangkan dalam metre (syair)nya. Sedang, perbedaan Epic dan Tragedy ialah, jenis syair Epic ditulis dalam bentuk narrative, ditulis dalam one single kind of verse or metre dan Tragedy ditulis dalam bentuk dramatic, dalam beberapa metre (syair). Perbedaan kedua, ialah panjangnya—dalam Epic, actions tidak memiliki batas waktu, tidak melihat the unity of time, dapat mencakup beberapa hari. Sedang, Tragedy melihat the unity of time, mencobamenuturkan actions dalam satu putaran matahari--satu hari . ‘...to keep as gar as possible within a single circuit of the sun, or something near that...’(Aristotle: 2320).

Tragedy

Tragedy adalah imitasi dari action yang serius dan juga memiliki daya tarik, lengkap dalam dirinya sendiri karena terdiri dari awal, tengah, dan akhir, dikemas dalam bahasa dengan pleasureable accessories dan dalam bentuk dramatic, tidak dalam bentuk narrative; dengan incidents (peristiwa) yang menimbulkan rasa kasihan dan takut, yang mencapai katarsis atas emosi tertentu. Ada enam unsur dalam setiap tragedy yaitu a plot, characters, diction, thought, spectacle, and melody (Aristotle: 2320) .

Mengenai keindahan, untuk menjadi indah, makhluk hidup, dan semua bagian keseluruhan, tidak hanya menunjukkan keteraturan dari bagian-bagiannya tetapi juga daya-tarik tertentu, “must not only present a certain order in its arrangement of parts, but also be of a certain definite magnitude”. Indah adalah permasalahan ukuran dan order. “The size to be taken in by the eye”, sehingga sebuah cerita atau plot harus dalam panjang tertentu, tapi panjangnya dapat ditangkap oleh memori. Sebagai rumus umum yang kasar, panjang yang memungkinkan ialah sepanjang sang tokoh utama dapat melewati serangkaian tahapan kemungkinan dari nasib buruk ke baik, atau dari baik ke buruk, mungkin ini cukup sebagai batas untuk besarnya cerita (Aristotle: 2322)

Kebenaran adalah, seperti dalam seni imitatif lain, merupakan satu imitasi selalu dari satu hal. Dalam puisi, cerita ialah imitasi dari action, selalu menampilkan hanya satu action, keseluruhan lengkap, dengan beberapa kejadian yang begitu erat berhubungan, yaitu bahwa transposisi atau penarikan dari salah satu kejadian akan memisahkan dan merusak keseluruhan (Aristotle: 2322).

Penyair semakin menjadi penyair karena isi puisinya, bukan karena bentuk syairnya, sejauh isi puisinya merupakan kebenaran dari elemen imitatif dalam karyanya, dan dalam actions yang ia imitasi. Dan apabila ia mengambil subjek dari sejarah aktual, dia tidak mengurangi kadarnya sebagai penyair; karena beberapa kejadian sejarah dapat menjadi aspek dari puisi (Aristotle: 2323).

Tragedy, bagaimanapun juga, adalah sebuah imitasi bukan hanya dari action yang lengkap, tapi juga dari peristiwa yang menimbulkan rasa kasihan dan ketakutan. (Aristotle: 2323)

Ada 4 poin tujuan dalam pembetukan characters (tokoh) dalam tragedy. Pertama dan utama, characters harus menjadi tokoh yang bagus/baik. Sifat kebaikan mungkin dilekatkan dalam setiap tipe personage, baik wanita atau budak, walaupun ia mungkin seorang inferior. Poin kedua, adalah untuk membuat karakter-karakter tersebut tepat [misalnya: suatu jenis sifat, seperti lincah, bisa jadi tidak tepat jika dilekatkan pada karakter nenek tua]. Poin ketiga adalah untuk membuat mereka seperti reality. Poin keempat, ialah untuk membuat karakter-karakter tersebut konsisten (aristotle:2326)

The diction terdiri dari unsur the letter, the syllable, the conjuction, the article, the noun, the verb, the case and the speech.

Puisi dan Sejarah

Perbedaan antara sejarawan dan penyair bukanlah pada bentuk tulisan prosa atau syair—kita bisa mengambil contoh karya Herodotus yang ditulis dalam syair. Karya Herodotus tetap saja merupakan species sejarah; karena karya itu terdiri dari, sesuatu yang menjelaskan hal yang telah terjadi. Puisi adalah sesuatu yang lebih filosofis daripada sejarah, karena pernyataan-pernyataannya universal, sedangkan sejarah bersifat singular. (atau, dengan kata lain, sejarah bersifat particular). Universal yang dimaksud di sini ialah sifat puisi yang dapat menyatakan hal yang kemungkinan kuat akan manusia katakan atau lakukan (Aristotle: 2323). Puisi memiliki sifat universal, karena ada kesatuan action yang dapat membentuk plot yang baik, dan dapat membuat dialog yang dikatakan atau dilakukan tokoh dapat masuk akal, dapat dipercaya.[2]

Puisi, sebagaimana dikatakan sebelumnya, merupakan keseluruhan lengkap, dengan beberapa kejadian yang begitu erat berhubungan (berdasar single action). Transposisi atau penarikan dari salah satu kejadian akan merusak keseluruhan. Sedang dalam sejarah, tidak berkaitan dengan satu action, tapi dengan satu periode dan semua yang terjadi pada seorang atau lebih manusia, walaupun beberapa peristiwa tidak berhubungan satu sama lain. Dua atau lebih kejadian mungkin terjadi pada waktu yang sama (Aristotle: 2335)

Fungsi puisi adalah untuk menjelaskan, bukan tentang sesuatu yang telah terjadi, tapi suatu jenis kejadian yang mungkin terjadi, “what is possible as being probable or necessary” (Aristotle: 2322). Pusi dan sejarah sama-sama menaruh perhatian pada tindakan manusia, tapi sejarah tidak mengandung essential unities.

Kritik terhadap Poetry

Kritik terhadap Poetry, pertama, deskripsi puisi dikritik sebagai bukan kebenaran yang sesungguhnya. Menanggapi kritik ini, Aristoteles menyatakan, sesuatu yang dikatakan atau dilakukan dalam sebuah puisi, harus dipertimbangkan tidak hanya dalam kualitas instrinsiknya, tetapi juga siapa tokoh yang mengatakan, waktu, sarana, dan motif tokoh--apakah ia melakukan itu untuk mencapai kebaikan yang lebih besar, atau untuk menghindari kejahatan yang lebih besar? Kedua, dalam puisi terdapat metafor yang menimbulkan banyak interpretasi untuk mengartikannya (Aristotle, hal 2338)

Daftar Pustaka:

Aristotle (Translator: Ingram Bywater), Poethics

(http://www.stenudd.com/myth/greek/aristotle/aristotle-poetics.htm).



[1] Dalam tulisan ini, penulis banyak menggunakan bahasa Inggris, sebagaimana tertulis dalam naskah terjemahan Ingram Bywater, sebab penulis tidak terlalu yakin untuk menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa indonesia.